Ngabuburit Sore Hari, Tradisi Ramadan yang Kaya Makna dan Sejarah

Senin, 23 Februari 2026 | 13:26:13 WIB
Ngabuburit Sore Hari, Tradisi Ramadan yang Kaya Makna dan Sejarah

JAKARTA - Ngabuburit adalah tradisi khas Indonesia yang muncul setiap bulan Ramadan. 

Kegiatan ini merujuk pada “mengisi waktu” menjelang berbuka puasa, biasanya dilakukan pada sore hari sebelum azan Magrib. 

Meski sederhana, ngabuburit telah menjadi fenomena sosial yang membentuk suasana kebersamaan, kegembiraan, dan interaksi lintas generasi di berbagai kota di tanah air. Mengetahui ngabuburit jam berapa bukan sekadar soal waktu, tetapi juga memahami makna dan sejarahnya.

Tradisi ini memberikan ruang bagi individu untuk menghabiskan waktu secara bermanfaat, santai, dan sekaligus produktif. 

Dari bermain, berinteraksi, hingga kegiatan religius, ngabuburit kini telah melebar cakupannya dari akar lokal menjadi bagian dari budaya nasional. Dengan mengetahui waktu tepat dan ide kegiatan seru, setiap orang dapat memanfaatkan sore hari menjelang berbuka dengan optimal.

Waktu Tepat Ngabuburit dan Arti Tradisinya

Ngabuburit umumnya dilakukan pada sore hari, setelah salat Asar, sekitar pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, menyesuaikan dengan waktu Magrib di masing-masing daerah. Secara praktis, ngabuburit dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, memberikan cukup waktu untuk bersantai atau melakukan aktivitas ringan sebelum berbuka.

Kata “ngabuburit” berasal dari bahasa Sunda, dengan kata dasar “burit” yang berarti sore hari menjelang Magrib.

 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ngabuburit diartikan sebagai menunggu azan Magrib saat bulan Ramadan. Istilah ini menekankan kegiatan santai sambil menunggu sore, yang awalnya populer di kalangan anak-anak Sunda. Mereka biasa bermain sambil menunggu waktu buka, dan kebiasaan ini terus berkembang hingga menjadi tradisi nasional.

Seiring waktu, istilah ini dipengaruhi media dan menjangkau masyarakat luas di luar daerah Sunda. Kini, ngabuburit bukan hanya soal menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi kesempatan memperkuat interaksi sosial, mengeksplorasi kreativitas, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Ragam Aktivitas Ngabuburit yang Seru dan Bermakna

Ngabuburit bisa dilakukan dengan berbagai cara, menyesuaikan minat dan kondisi individu. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga dapat bermanfaat secara sosial, religius, dan edukatif.

Aktivitas klasik meliputi berburu takjil, berjalan-jalan santai di taman, alun-alun, atau pantai, serta nongkrong bersama teman dan keluarga. Berburu kolak, es pisang hijau, gorengan, atau aneka minuman ringan menjadi tradisi ikonik, sementara jalan-jalan sore memberi kesempatan menikmati suasana alam atau kota menjelang Magrib.

Selain itu, kegiatan religius seperti mengaji, tadarus, atau mengikuti kajian keagamaan semakin diminati. Beberapa komunitas menyelenggarakan sesi edukatif dan religi, menambah pengetahuan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aktivitas sosial juga populer, misalnya berbagi takjil, bakti sosial, dan kegiatan komunitas relawan, yang menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Untuk mahasiswa, ngabuburit bisa menjadi waktu jeda dari kesibukan kuliah. Membaca buku, belajar kelompok, atau mengerjakan tugas di tempat nyaman merupakan alternatif produktif. Olahraga ringan seperti jalan santai atau persiapan menu buka bersama di kos juga memberi pengalaman seru dan mempererat solidaritas.

Dampak Sosial dan Ekonomi dari Tradisi Ngabuburit

Ngabuburit bukan sekadar aktivitas individu, tetapi fenomena sosial yang membentuk dinamika masyarakat. Ruang publik seperti taman, jalan, dan pantai menjadi tempat interaksi sosial, memperkuat hubungan lintas generasi. Aktivitas ini menguatkan nilai kebersamaan dan meredupkan ego individualistik.

Dari sisi ekonomi, tradisi ngabuburit menjadi penggerak ekonomi rakyat. Pasar Ramadan dan pedagang takjil dadakan memberikan peluang bagi UMKM untuk berkembang. Pertukaran antara pedagang dan pembeli menciptakan interaksi sosial, nilai budaya, serta peluang ekonomi yang mendukung kehidupan banyak warga.

Lebih dari itu, ngabuburit menjadi perekat kebersamaan. Duduk santai sambil melihat matahari terbenam, berbagi cerita, atau berburu takjil memperkuat ikatan antarindividu dan komunitas. Aktivitas ini menumbuhkan rasa saling melengkapi dan solidaritas yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia selama Ramadan.

Tantangan dan Strategi Menikmati Ngabuburit

Fenomena ngabuburit membawa tantangan, terutama terkait kepadatan ruang publik dan lalu lintas. Di kota-kota besar seperti Mataram, pemerintah daerah perlu memetakan titik kepadatan dan mengatur arus lalu lintas. Penataan ini penting untuk menjaga kenyamanan dan keamanan warga.

Kolaborasi dengan pelaku UMKM juga menjadi solusi agar bazar Ramadan lebih tertib dan aman. Pengaturan parkir, fasilitas umum, serta koordinasi dengan aparat lokal membantu mengurangi hambatan saat warga menikmati ngabuburit. Strategi ini memastikan tradisi tetap menyenangkan sekaligus memberi manfaat sosial dan ekonomi.

Secara keseluruhan, ngabuburit dilakukan sore hari, sekitar pukul 15.30-16.00 WIB hingga menjelang azan Magrib (sekitar 17.30-18.00 WIB), disesuaikan dengan waktu berbuka di masing-masing daerah. 

Dengan mengetahui waktu tepat dan ide kegiatan kreatif, setiap orang dapat mengisi waktu ngabuburit dengan bermanfaat, menyenangkan, dan bermakna.

Terkini