AETI Mendorong Industri Hilir Domestik Agar Timah Memberikan Nilai Tambah

Selasa, 03 Maret 2026 | 12:46:47 WIB
AETI Mendorong Industri Hilir Domestik Agar Timah Memberikan Nilai Tambah

JAKARTA - Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) menekankan urgensi pembentukan industri offtaker domestik untuk memperkuat struktur hilirisasi timah nasional.

Langkah ini dianggap penting agar produksi timah dalam negeri tidak hanya bergantung pada pasar ekspor.

Data AETI menunjukkan bahwa konsumsi timah di dalam negeri baru berkisar 5–7 persen dari total produksi nasional. Kondisi ini menandakan bahwa daya serap pasar domestik masih sangat terbatas, padahal kapasitas produksi besar dan reputasi timah Indonesia kuat di pasar global.

Ketua Umum AETI, Harwendro Adityo Dewanto, menyoroti lemahnya industri offtaker yang membuat rantai pasok hilir belum terbentuk secara utuh. 

“Tanpa basis industri hilir yang kuat, pengembangan produk turunan timah di dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan mengekspor bahan setengah jadi,” kata Harwendro.

Tantangan Ekosistem Industri Hilir

Harwendro menambahkan, agenda hilirisasi mineral belum diikuti pertumbuhan ekosistem industri hilir yang memadai. Sektor manufaktur pengguna timah sebagai bahan baku utama masih belum berkembang optimal.

Minimnya investasi pada industri produk turunan juga terkait dengan belum tumbuhnya industri perantara, seperti elektronik, kimia, solder, plating, dan komponen manufaktur lain yang membutuhkan timah secara konsisten. Akibatnya, nilai tambah lebih banyak tercipta di luar negeri.

Di sisi lain, posisi timah Indonesia di pasar global sangat kuat. “Brand timah Indonesia itu nomor satu di dunia. Paling banyak dicari orang karena kita hampir paling murni,” ujar Harwendro.

Kualitas Timah Indonesia dan Dampaknya pada Ekspor

Produk timah Indonesia memiliki tingkat kemurnian mencapai 99,9 persen, menjadikannya salah satu timah paling dicari di pasar internasional. Reputasi ini menopang ekspor nasional selama ini.

Namun, ketergantungan tinggi pada pasar global tetap menyimpan risiko. Fluktuasi harga internasional dan dinamika geopolitik dapat langsung memengaruhi kinerja industri timah nasional ketika pasar domestik belum menjadi penyangga yang memadai.

Komitmen AETI pada Hilirisasi

Dalam konteks ini, AETI menegaskan komitmennya mendukung agenda hilirisasi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Organisasi ini menilai diperlukan desain kebijakan lebih komprehensif agar proses hilirisasi tidak berhenti pada produksi bahan antara atau tier kedua.

“Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menciptakan industri-industri turunan baru dari timah maupun nikel agar hasilnya maksimal bagi negara. Harapannya tidak setop di tier kedua saja, tapi sampai menjadi barang jadi yang bisa langsung dikonsumsi,” ujar Harwendro.

Fokus pada Penguatan Ekosistem Industri

Menurut Harwendro, tantangan hilirisasi timah bukan terletak pada kapasitas produksi maupun kualitas bahan baku. Masalah utama berada pada kesiapan ekosistem industri untuk menyerap komoditas tersebut secara berkelanjutan.

Penguatan offtaker domestik menjadi kunci agar nilai tambah tidak terus mengalir ke pasar global. Hal ini membutuhkan strategi terintegrasi untuk mendorong pertumbuhan industri turunan, memperluas permintaan dalam negeri, dan membangun rantai pasok nasional yang solid.

Strategi Peningkatan Industri Turunan

Beberapa strategi yang diusulkan AETI antara lain:

Mengembangkan industri pengguna timah dalam negeri, termasuk sektor elektronik, kimia, dan solder.

Memperkuat rantai pasok domestik untuk produk turunan timah agar lebih kompetitif.

Mengoptimalkan kapasitas manufaktur lokal untuk meningkatkan nilai tambah.

Dengan strategi ini, diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan setengah jadi, tetapi juga mampu menghasilkan produk jadi dari timah yang siap dikonsumsi domestik maupun ekspor.

Manfaat Ekonomi dan Sosial

Penguatan industri offtaker domestik dapat memberikan dampak ekonomi signifikan, antara lain:

Peningkatan lapangan kerja di sektor manufaktur hilir.

Nilai tambah lebih besar tetap berada di dalam negeri.

Diversifikasi produk timah yang lebih beragam.

Pengurangan ketergantungan pada fluktuasi harga global.

Selain itu, keberadaan industri offtaker domestik yang kuat juga dapat mendorong pengembangan teknologi pengolahan timah dan inovasi produk baru.

Kesiapan Pemerintah dan Peran Kebijakan

Harwendro menekankan pentingnya dukungan pemerintah melalui kebijakan yang terstruktur, termasuk insentif bagi industri hilir, regulasi yang mempermudah investasi, serta pengawasan rantai pasok. Tujuannya agar hilirisasi tidak berhenti di tier kedua, melainkan mencapai produk jadi yang kompetitif.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, hilirisasi timah Indonesia dapat:

Memperkuat posisi pasar domestik.

Mengurangi risiko dari fluktuasi pasar internasional.

Memaksimalkan kontribusi timah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengembangan industri offtaker domestik menjadi faktor krusial dalam memperkuat hilirisasi timah Indonesia. Meskipun posisi timah nasional kuat di pasar global, ketergantungan tinggi pada ekspor masih menyimpan risiko.

AETI menekankan perlunya strategi terintegrasi yang mencakup pengembangan industri hilir, ekosistem manufaktur domestik, dan kebijakan pemerintah yang mendukung. 

Dengan penguatan offtaker domestik, nilai tambah timah dapat tetap berada di dalam negeri, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan ketahanan industri nasional.

Terkini